
Kompleks Candi Plaosan berlatarbelakang Agama Buddha didirikan di daerah Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Batas-batas wilayah yang mengelilingi Kompleks Candi Plaosan adalah Desa Kebondalem Lor di sebelah Utara, Desa Kemuda di sebelah Timur, Desa Taji di sebelah Selatan dan sungai Dengok mengalir di sebelah Utara dan Timur.
Menurut Caparis, Candi Plaosan Lor didirikan pada pertengahan abad IX M (825-850 M). Candi ini dibangun oleh putri raja dari Dinasti Sailendra yang bergelar Sri Kahulunan, dan oleh suaminya Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Sri Kahulunan merupakan gelar yang dimiliki oleh Pramodawarddhani, putri Raja Samaratungga.
Pendapat ini didasari oleh data prasasti, gaya seni, dan arsitektur candi. Sifat gotong royong pada masa ini sangat kental. Candi lain yang dibangun dengan kerjasama antar penguasa adalah Candi Mendut (Venuvana), dibangun oleh Samaratungga (Ayah Pramodawarddhani) yang beragama Buddha dibantu oleh Rakai Garung (Rakarayan Patapan Pu Palar) seorang raja penganut Agama Hindu.
Candi Plaosan Lor memiliki arsitektur unik yaitu memiliki 2 (dua) candi induk dimana masing-masing candi induk dibatasi oleh pagar dan gapura serta memiliki sepasang dwarpala. Kedua candi induk tersebut memiliki denah persegi panjang, dan di dalamnya terdiri dari 2 (dua) tingkat. Candi induk kembar ini terdiri dari candi induk selatan untuk laki-laki dan candi induk utara untuk perempuan.
Kompleks Percandian Plaosan terdiri dari Candi Lor dan Kidul memiliki luas dengan hasil ekskavasi menyebutkan panjang dan lebarnya seluas 460 x 290 meter.

Bilik Candi
Tata ruang dalam Candi juga berbeda dengan tata ruang pada Candi lain, konsep yang melatarinya adalah Yogini Yantra. Bilik candi dibangun dengan arah mata angin utara-selatan, terdiri dari 3 (tiga) ruangan, dan masing-masing bilik memiliki 3 (tiga) arca Bodhisatva.

6 (enam) arca ditempatkan di dalam bilik candi dan 2 (dua) di relung kanan kiri penampil pintu, kedua arca tersebut adalah Maitreya dan Manjusri.
Menurut Kitab Sanghyang Kamahayanikan …Ratnatraya (*Tengah adalah arca yg hilang)

Konsep Ratnatraya (Triratna) mengilhami tata ruang candi induk dan tata letak bangunan, bahkan penyusunan perwara menjadi 3 (tiga) deret.

Pada dinding bilik candi terdapat figur raja dan ratu, pada candi utama laki-laki terdapat pahatan figur raja, dan pada candi utama perempuan terdapat pahatan figur raja dan ratu.

Perwara
Kompleks Candi Plaosan Lor terdapat 3 (tiga) deret perwara berjumlah 174 buah dengan perincian sebagai berikut : Deret pertama berjumlah 50 candi perwara berbentuk Caitya, deret kedua terdiri dari 54 candi perwara berbentuk stupa dan 4 (empat) candi perwara sudut berbentuk Caitya, deret ketiga terdiri dari 62 perwara stupa dan 4 (empat) perwara Caitya di bagian sudut.
Candi perwara ini merupakan persembahan (anumoda) atau darma (dharma) yang diberikan oleh raja dan keluarganya atau para pejabat tinggi kerajaan sebagai wakaf untuk bangunan suci Kebuddhaan. Banyak prasasti singkat yang tertulis di perwaranya, nama para raja yang bersumbangsih tertulis dengan kata “anumoda”.
Perwara berbentuk stupa adalah sumbangsih dari raja yang beragama Buddha, dan perwara dengan bentuk Caitya adalah sumbangsih dari raja yang beragama Hindu.
Beberapa prasasti menyebutkan : dharma sri maharaja (darma Sri Maharaja), asthupa sri maharaja rakai pikatan (stupa [persembahan] Rakai Pikatan), anumoda sang kalung warak Pu’Daksa (persembahan Sang Kalungwarak Pu Daksa), anumoda sri kahulunnan (persembahan Sri Kahulunnan), anumoda sang da pankur pu agam (persembahan Sang Da Pangkur Pu Agam).

Arca Dwarpala
Arca Dwarpala ditemukan pada tahun 1994 berada 70 cm di bawah permukaan tanah, hal ini menunjukkan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun lebih tinggi dan merupakan bangunan tersuci dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain dalam kompleks tersebut.
Pagar yang mengelilingi ketiga deret perwara dilengkapi dengan 2 (dua) pintu masuk yang ditempatkan di sisi barat. Dan masing-masing pintu masuk terdapat sepasang arca dwarapala.

Di sebelah utara di antara 2 (dua) deretan stupa perwara, terdapat sebuah Mandapa. Mandapa ini dibangun dengan 16 umpak batu dan membentuk dengan empat persegi panjang dengan pintu masuk di arah barat. Adanya umpak ini mengidentifikasikan bahwa terdapat tiang-tiang kayu yang mendukung bangunan di atasnya.

Pahatan Figur

Pahatan figur laki-laki dan perempuan kemungkinan merupakan wujud Raja Rakai Pikatan dan Ratu Pramorwardhhani.

Makara, berdasarkan mitologi India, adalah binatang laut yang perwujudannya merupakan perpaduan berbagai binatang diantaranya gajah, ular, buaya dan naga.

Ukiran relief burung cinta menghiasi bagian dalam bilik candi utama, melambangkan kesetiaan dan cinta terhadap pasangannya.

Raksasa yang membawa timbangan untuk menimbang perbuatan baik dan perbuatan buruk kita. Terletak di sisi bawah di kiri dan kanan pintu candi.

Relief Kala berbentuk raksasa dengan mulut terbuka, biasanya dipahat di atas pintu, jendela, atau gapura. Kala melambangkan waktu, yang mengingatkan bahwa semua kehidupan “dimakan” oleh waktu.

Tanaman bersulur panjang melingkar ini melambangkan kesabaran, relief ini mengingatkan kita bahwa hidup ini harus diisi dengan kesabaran.

Relief alat musik berupa terompet, alat ini digunakan untuk memanggil umat berkumpul.

Motif bunga belah ketupat dan diapit oleh 2 (dua) tiang, merupakan simbol dari kehidupan manusia harus mampu membedakan/membelah perbuatan baik dan buruk. Kedua tiang yang mengapit, diartikan sebagai pendirian yang kuat untuk bisa membedakan kebaikan dan keburukan.
Candi Plaosan Kidul
Candi Plaosan Kidul terletak sekitar 100 meter di sebelah selatan Candi Plaosan Lor. Candi ini memiliki 1 (satu) candi induk dan dikelilingi oleh 85 candi perwara, namun bentuk candi induk belum dapat diketahui karena belum selesai dipugar. Ragam hias candi ini hampir sama dengan Candi Plaosan Lor.