Kawasan situs Batujaya terletak di wilayah administrasi Desa Telagajaya dan Desa Segaran, Kabupaten Karawang.
Daerah pantai utara Jawa Barat, sepanjang bentangan Sungai Citarum dan Cisadane telah dihuni oleh manusia sejak jaman prasejarah dan merupakan kawasan hunian yang cukup padat dengan bukti ditemukannya banyak artefak terutama gerabah. Bukti-bukti arkeologi ini memberi gambaran masa awal Agama Hindu dan Buddha masuk ke nusantara pada masa pemerintahan Kerajaan Tarumanagara.
Kompleks percandian Batujaya merupakan kompleks percandian agama Buddha tertua di Jawa, yang dibangun dalam 2 fase, yaitu abad ke-6 dan ke-7 (Fase I) dan berlangsung pada abad ke-8 hingga abad ke-10 (Fase II). Fase pertama dibangun oleh Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanagara, dan fase kedua adalah masa pendudukan Kerajaan Tarumanagara oleh Sriwijaya. Sejak masa awal perkembangan kerajaan Tarumanagara, Agama Weda dan Agama Buddha hadir dalam waktu yang bersamaan.
Seni budaya Buddhis terlihat dari bentuk bangunan, stupa, arca, dan sejumlah votive tablet, inskripsi yang tergores pada votive tablet maupun lempengan emas dan terakota yang banyak tersebar di sekitar situs. Seni budaya ini mendapat pengaruh kuat gaya seni Gandhara dari India Utara, Khususnya Nalanda, pada saat itu Nalanda sebagai pusat studi Agama Buddha.
Daratan di sekitar situs terbentuk oleh proses sedimentasi hasil erosi yang terbawa oleh aliran Sungai Citarum. Proses ini berlangusng terus menerus sejak masa kuarter, sehingga rawa-rawa, laut dan sungai-sungai purba di daerah Batujaya dan sekitarnya terisi oleh bahan erosi dari daerah pedalaman. Dengan adanya proses sedimentasi maka situs-situs arkeologi kebanyakan terkubur oleh endapan fluvial, lempung, dan pasiran. (Hasan Djafar. 2010: 41)
Kawasan situs Batujaya ditemukan pada tahun 1984 oleh tim survey Jurusan Arkeologi Falkutas Sastra Universitas Indonesia dan mulai diekskavasi pada tahun 1986. Telah ditemukan 30 situs tersebar di kawasan seluas 5 km2, 22 situs telah diekskavasi dan ditemukan 16 struktur bangunan candi, sisanya 8 buah situs belum digali. Dan di sini hanya dibahas mengenai 4 situs yang telah dikunjungi.
a. Candi Jiwa (Segaran I)

Pada saat sebelum diekskavasi, candi ini terpendam dalam gundukan tanah. Penduduk setempat menamakan gundukan tanah yang menyerupai bukit kecil itu dengan Unur Jiwa.
Juru piara candi menerangkan bahwa pada jaman dahulu bukit (unur) ini menjadi tempat menaruh ternak saat genangan air pasang Sungai Citarum, keesokan harinya terdapat ternak yang mati dan hidup. Maka unur ini dinamakan unur jiwa.
Candi Jiwa memiliki luas sekitar 500m2 dan ketinggian 4 meter dari permukaan tanah sekitarnya, candi ini tidak memiliki tangga naik ataupun pintu masuk, tetapi memiliki struktur jalan yang melingkari bangunan candi yang dipastikan sebagai sebuah jalan (patha) untuk keperluan pradaksina.
Keunikan candi ini adalah bentuknya yang bergelombang sedemikian rupa seperti kelopak bunga teratai mekar bila dilihat dari atas.
Bagian bawah candi berwarna putih adalah lapisan lepa. Lapisan lepa adalah lapisan yang terdiri dari campuran pasir, lumpur, dan sekam yang dicetak dalam bentuk batu bata, kemudian dilapis dengan tumbukan kulit kerang.
Lapisan kulit kerang membuat permukaan Percandian Batu Jaya terlihat putih mengkilap dari Sungai Citarum. Karena tergerus jaman maka yang tersisa hanyalah cuplikan di dasar ataupun di beberapa sisi candi.

b. Candi Blandongan (Segaran V)
Situs ini merupakan situs terbesar di Kawasan Situs Batujaya. Bagian kaki berbentuk bujur sangkar berukuran 25 x 25 meter, di bagian atas kaki pada keempat sisi candi ini terdapat pagar langkan. Candi ini memiliki empat buah tangga di keempat sisinya. Diperkirakan bagian atas candi ini berbentuk stupa bergaris tengah 6 meter.

Diperkirakan saat candi ini dibangun, terdapat relief di permukaan putih lepa, masih tersisa guratan ukiran walaupun sudah tidak berbentuk lagi.
Di sekitar reruntuhan Candi Blandongan ditemukan bata-bata pembangun Candi.

Keunikan bata ini adalah penggunaan yang diramu dengan campuran (temper) kulit padi (sekam) selain pasir dan lumpur. Sekam berusia ribuan tahun ini masih terlihat utuh dan kuat sebagai pengisi bata. Keberadaan sekam merupakan bukti masyarakat agraris di Jawa Barat pada masa tersebut.
Dari reruntuhan candi, ditemukan bukti penggunaan stuko, yaitu adukan kapur yang digunakan sebagai lepa dan ornament, bahkan bahan pembuatan relief dan arca-arca kecil.
Meterai (Votive tablet) Terakota
Ekskavasi di kaki candi Blandongan ditemukan 10 buah votive tablet tanah liat bakar (terakota) yang hampir utuh dan 50 pecahannya. Permukaannya dihiasi relief para Bodhisatva, Tiga sosok di atas dengan sikap duduk bersila dan sikap tangan dhyana mudra, tiga sosok di bawah bagian tengah adalah Buddha dengan sikap duduk bhadrasana, dengan tangan kiri diletakkan di atas paha kiri dan tangan kanan diangkat dengan sikap abhaya mudra, diapit oleh dua bodhisatva dengan sikap berdiri tribanga dan sikap tangan abhaya mudra.
Berdasarkan kemiripan dan keseragaman masing-masing meterai ini, dipastikan bahwa alat cetaknya terbuat dari logam.
Sebagian votive tablet memiliki inskripsi tetapi aksaranya tidak terbaca jelas.

Lempengan emas bergoreskan ayat-ayat suci Agama Buddha
Lempengan inskripsi emas ditemukan di kawasan Candi Blandongan, selembar emas tipis berukuran 5 x 2,5 cm beraksara Palawa dan bahasa Sansekerta.
Banyak kata “karma” yang tergores di inskripsi tersebut, diperkirakan ayat suci ini dikutip dari kitab Pratityasamutpada sutra (Paticca samupada), yaitu ajaran Buddha mengenai hukum sebab akibat.


Perhiasan
Temuan perhiasan di sekitar situs menunjukkan bahwa pada masanya, sebagian perhiasan berupa manik-manik ini diproduksi secara lokal di Batujaya dan sebagian berasal dari luar Indonesia, kemungkinan besar berasal dari India Selatan. Manik-manik perhiasan terbuat dari bahan batu dan kaca (gelas), gelang dari bahan kulit kerang dan emas.
Manik-manik batu umumnya terbuat dari batu kalsedon berwarna merah kecoklatan dan putih, manik-manik kaca monokrom ditemukan berwarna kuning, merah-kecoklatan, biru, dan hijau.
Ekskavasi pada tahun 2005 menemukan gumpalan lelehan kaca yang mengidentifikasikan kegiatan pembuatan perhiasan manik-manik ini.
Perhiasan ini ditemukan di lapisan bawah struktur bangunan bata, yaitu pada lapisan budaya Buni yang menunjukkan era prasejarah.
Perhiasan digunakan sehari-hari dan juga banyak ditemukan sebagai bekal kubur pada akhir masa prasejarah.

Tulang hewan dan manusia banyak ditemukan di sekitar situs, biasanya terkena cangkul penduduk saat menggarap tanah.
Kerangka manusia
Enam kerangka manusia yang hampir utuh ditemukan, merupakan kubur primer pada akhir masa prasejarah, pada lapisan budaya Buni. Kebudayaan Buni adalah kebudayaan pra-Masehi hingga abad ke-5 Masehi. Kerangka ini ditemukan bersama bekal kubur berupa periuk, tutup periuk, kendi dan mangkuk, alat-alat logam berupa parang, pisau, dan perhiasan berupa manik-manik kaca, manik-manik batu, dan gelang emas. Jenis manusia Mongoloid yang diperkirakan berasal dari masa sekitar abad ke-3 Masehi, yaitu akhir masa perundagian.

Keramik Asing
Temuan keramik asing umumnya berasal dari Tiongkok, dan wilayah Asia Tenggara daratan seperti Annam dan Thailand. Keramik ini ditemukan oleh para penggali pasir di tepi Sungai Citarum. Mengingat lokasi Sungai Citarum yang strategis sebagai lalu lintas perdagangan, maka penemuan keramik-keramik asing ini merupakan bukti sejarah perdagangan antar yang terjadi di kawasan ini.
Keramik Dari Tiongkok berupa pecahan mangkuk, piring, kendi, guci, tempayan dan botol, berasal dari masa dinasti Tang, Song, Yuan, Ming, dan Qing, dari abad ke 9 sampai abad ke-16.
Pecahan keramik dari Thailand dan Vietnam ditemukan, berasal dari masa sekitar abad ke-13 sampai abad ke-16.

Gerabah
Gerabah prasejarah yang ditemukan di kawasan situs Batujaya termasuk dalam tipe gerabah Buni, yang ditemukan sekitar 1,5-2 meter dari permukaan tanah. Gerabah pada masa ini terdapat 2 corak yaitu berwarna merah dan abu-abu. Gerabah hasil penemuan di situs ini jumlahnya sangat banyak dan beragam. Pada umumnya berbentuk periuk, mangkuk, kendi piring, dan tempayan. Pola hias pada umumnya berupa anyaman atau pola duri ikan, dan pola geometri.
Salah satu pecahan gerabah terpenting adalah gerabah arikamedu, yaitu gerabah berbentuk rolet yang berasal dari Arikamedu sebuah kota pelabuhan di wilayah India bagian selatan dan berasal dari masa sekitar awal abad masehi. Penemuan gerabah Arikamedu ini merupakan bukti arkeologi yang memberi petunjuk awal tentang adanya hubungan budaya dengan kebudayaan India, juga masuknya agama Hindu dan Buddha.

c. Candi Telaga Jaya VIII

d. Candi Serut (Telaga Jaya I)

Peta sebaran situs Batu Jaya

Kidung welas asih Raja Purnawarman
Jangan salah melangkah
Biarpun ada kesalahan terlepas dari ajaran manusia yang berbudi luhur
Semoga semua mahkluk dapat hidup berbahagia dan sejahtera
Bagaikan seorang ibu yang sayang terhadap anaknya
Semoga semua manusia di muka bumi ini dimudahkan rejeki dan kesehatan jasmani dan rohani
Kalau ingin melangkah dengan baik
Perbanyak mempehatikan pikiran
Pikiran yang mengikuti ajaran yang baik, lemah lembut, dan rendah hati
Semua mahkluk yang hidup di bumi baik yang besar, kecil, yang pendek maupun yang tinggi, gemuk, kurus, yang jauh maupun yang dekat, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat selalu hidup berbahagia.
Hidup jangan terbawa nafsu
Tingkatkan panca indra supaya hidup tidak menjadi murka dan biadab
Tidak menghargai sesama saudara
Dalam hidup jangan menghina, menghasut, sirik, dengki
Biarpun hidup di mana saja
Melakukan kebencian biarpun sedikit tetap saja itu salah
Prilaku yang baik adalah sadar diri
Walaupun di saat tidur dan menlangkah, selalu mengingat kebaikan
Menghindari kesalahan walaupun hanya setitik
Meninggalkan prilaku yang salah dan mendekatkan diri dengan darma bakti
Merasa lahir dalam hidup baru dan akan dilahirkan kembali.
Video sisa gerabah, temuan tulang di Museum Batujaya